Untuk Ekuivalensi

Vector business conceptual background in flat style. The hand of businessman holding magnet and attracts happy customers or clients of different age and race to the business.

Ekuivalensi,BarangkaliItu kamu yang tersisiBanyak memberi, tapi malah diacuhiKerja keras, namun masih disumpahiMencoba terbuka, hanya untuk ditutupiBerdiri di tengah ramai, untuk dirasuki sepiDibilang sama, tapi sendiri dan meratapiDiajar berharap, kemudian dijatuhiEkuivalensi,Barangkali
**

Berawal dari banyak pertanyaan, mulai dari orang jauh sampai orang dekat, orang yang baru dikenal sampai sangat kenal -Apa itu Ekuivalensi? Di sini gue memulai ketikan di paragraf pertama.

Sama seperti foto di atas, vertikal. Dibanding foto horizontal dari kanan dan kiri, gue lebih suka foto vertikal dari atas ke bawah. Karena begitu perspektif gue dalam melihat hidup.

Bukan kanan atau kiri, tapi atas dan bawah.

Entah pengertian gue salah atau opini gue terlalu anti entusiasme, tapi bagi gue, kanan dan kiri hanya bagian dari atas dan bawah. Atas dan bawah mengingatkan gue dengan langit dan bumi. Di tengah-tengah, selalu ada sekat.

Sekat langit dan bumi. Itu ekuivalensi.

Ekuivalensi sendiri punya arti sama, setara, dan sebanding dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan dengan demikian, begitu gue menganggap semua orang yang hidup di sekitar gue sebagai ekuivalensi. Mereka sama, setara, dan sebanding dalam Kamus Besar Bahasa Gue Sendiri.

Banyak karya tulis gue -terutama di Wattpad yang jauh dari kesan ceria. Sesekali ada guyonan, humor, terima kasih untuk karakter Glendy Adijunior yang selalu jadi sumbernya. Pun demikian, bahkan seorang ahli guyon seperti Glendy punya sisi gelapnya sendiri.

Dalam menulis, gue gak melihat dari angle bahagia, melainkan angle muramnya, sedihnya, dukanya. Kenapa? Karena dengan bermuram, bersedih, berduka, seringkali gue bisa jauh lebih bersyukur dan akhirnya bisa menemukan angle bahagia gue sendiri.

Begitu juga yang gue rasakan saat membaca kolom komen, direct messagee-mail, atau pesan apapun yang selalu ditulis dengan sepenuh hati dan tulus oleh pembaca gue. Awal mula gue membaca dengan menggebu-gebu, kemudian langsung membalasnya tanpa pikir panjang. Namun semakin banyak cerita yang masuk ke dalam inbox, gue justru lebih ingin menikmatinya. Menikmati bagaimana cara pembaca gue -kalian, berbagi muram, sedih, dan duka kalian sampai akhirnya kalian menemukan angle bahagia kalian sendiri.

Sebab setiap gue ingin mengetik sesuatu sebagai balasan, gue merasa mengerti akan hidup kalian di saat sesungguhnya gak ada satupun orang yang bisa mengerti kalian selain diri kalian sendiri. Yes, you are the best listener, the best adviser to your own self. Because you know exactly what’s going on in your life. So, have faith on you, darlings.

Tulisan ini gue dedikasikan sebagai bentuk terima kasih, rasa syukur, balasan, ungkapan hati dari gue untuk kalian yang selama ini sudah berbaik hati menyelami cerita gue -bukan hanya membaca, tapi mendengar dan mengerti.

Terima kasih sudah hidup lebih baik, terima kasih sudah menangis, terima kasih sudah berbagi batin dengan semua karakter yang pernah gue tulis. Terima kasih sudah mengizinkan mereka mampir -bahkan tinggal di hidup kalian.

Untuk kamu yang kehilangan namun tak bisa mencari,
Gak apa-apa. Ini fasenya buat kamu berpamitan dengan sesuatu yang bukan sesungguhnya. Nangis sekuat tenaga, teriak sejadi-jadinya. Jangan enggan karena merasa malu. Mereka yang gak mengerti gak pantas menyuruh kamu bungkam. Mereka yang bilang paham belum tentu punya ilmu soal kehilangan. Mereka yang menyuruh lupa belum tentu tidak pernah ingat. Jadi, kehilanganlah. Kehilangan yang banyak. Kehilangan yang dalam. Kehilangan yang terus menerus. Kehilangan sampai kamu puas.

Untuk kamu yang belum cukup baik meski sudah berusaha,
Sehabis belum, selalu ada akan. Jika hari ini kamu belum cukup baik, besok kamu akan baik. Bahkan lebih baik.

Untuk kamu yang tetap tinggal namun ditinggalkan,
Jangan pergi ke mana-mana. Tetap di tempatmu, di situ kamu tinggal. Kalau ada yang mampir, bukakan pintu. Jangan tutup pintunya. Biarkan terbuka terus. Supaya kalau dia ingin pergi, dia bisa langsung pergi. Tanpa pamit dulu. Tanpa bilang-bilang dulu. Sebab sudah seharusnya dia pergi. Sudah seharusnya dia gak tinggal di tempat kamu. Kamu cuma butuh terbiasa. Dan terbiasa akan selalu dibantu waktu.

Untuk kamu yang disudutkan meskipun berhak kecewa,
Ucapkan terimakasih, sudah menyakiti kamu sedalam ini. Tumbuh yang tinggi, kokoh. Buat fondasimu sendiri, pilih perabotmu sendiri. In the end, you are the one who choose the people around you. Tutup telinga pada apa yang mereka bilang. Kamu jelek, kamu buruk, kamu racun, kamu jahat, terserah. Kamu yang tau siapa kamu, untuk apa kamu hidup, kenapa kamu menjalani hidup yang seperti ini.

Untuk kamu yang gak diberi kesempatan sekalipun sudah mencoba,
Jangan minta kesempatan pada mereka. Tapi sama waktu, sama keadaan, kapan kamu akan dapat kesempatan itu? Kesempatan bukan manusia yang kasih. Kesempatan datangnya dari usaha, kerja keras, sabar. Kalau sudah melakukan ketiganya, tinggal tunggu waktu yang jawab.

Untuk kamu yang maafnya gak termaafkan,
Telan pahitnya, dan belajar untuk maafin diri sendiri. Hidup ini dikasih Tuhan bukan cuma untuk mereka yang gak pernah salah dan bersih dari dosa. Tapi juga buat kamu, kita, semua orang, entah mereka pernah buat salah, dosa, atau jahat. Sesalah apapun kamu di masa lampau, kamu juga pantas hidup. Kamu pantas tertawa hari ini dan bertemu dengan orang-orang yang menerima kamu, bukan cuma maafmu. Hidup.. Hidup terus.. Hidup selamanya.. Hidup penuh maaf..

Dengan demikian, selesai sudah.
Ucapan terima kasih dan ungkapan hati.
Eventhough it’s totally rare for me to say this, but it’s true that I keep going in writing because of you
And I will never stop writing to make you guys live better and happier.

Salam,
Val