Mulai Sebagai Gue

Sebelum mulai menulis di blog ini, ada debat internal dalam diri gue sendiri tentang bagaimana cara terbaik untuk gue memulainya -Apakah gue harus sebagai Valerie Patkar di Instagram? Apakah gue harus sebagai Valerie Patkar di Twitter? Apakah gue harus sebagai Valerie Patkar yang baru menulis satu buku? Apakah gue harus sebagai Kaisoone? Apakah gue harus sebagai si dia yang ada di kepala kebanyakan orang?

Sampai akhirnya gue memutuskan, gue hanya akan menjadi Valerie.

Valerie yang seperti lo baca sekarang. Valerie yang gak berusaha untuk menjadi sosok ini, dan sosok itu. Valerie yang ala kadarnya. Valerie yang bisa menulis di sini tanpa berpikir lebih panjang tentang apakah gue harus begini? Apakah gue harus begitu?

Keputusan gue untuk mulai menulis di sini dimulai dari banyak-nya direct message yang gue dapat secara pribadi hampir di semua media sosial. Isinya bermacam-macam -ada yang curhat, ada yang berbagi sampai ke sisi detil hidup mereka, ada yang mengekspresikan perasaan mereka tentang cerita yang gue baca, ada yang memberi dukungan berarti untuk gue.

Sayangnya, gue bukan orang yang bisa membalas semua hal satu per satu. Mungkin gue bisa, tapi gue enggan melakukannya.

Sometimes, I feel it -being too personal with someone else easily can lead you to many things; you are being nice, you are being kind, you are being polite, you are being good. Or else, you are being someone else, you put too much hope on someone, you always tend to try your hardest to please someone, or you can hurt someone without even realizing it.

Gak kok.

Gue gak menyadari itu sejak lama. Mungkin baru-baru ini. Atau malah sejak beberapa hari kemarin.

Lalu, kemudian gue sampai di fase berbagi lewat media sosial -dalam kasus ini, gue menggunakan Instagram, dengan tujuan, gue bisa setidaknya menumpahkan secuil apa yang gue lihat dan rasakan dalam satu hari, dan menjadikan itu sebagai pengalaman, buku pedoman untuk yang membaca supaya mereka bisa hidup lebih baik lagi.

But wait, what?

Gue bahkan bukan guru. Hidup gue bahkan belum masuk kategori baik. Yang harus gue pelajari masih banyak.

Jadi buat apa mengajar kalau gue sendiri butuh pelajaran?

Media sosial gak membuat diri gue menjadi gue. Analoginya sama persis seperti ketika lo gak sengaja bercanda dengan teman lo, dia mengucapkan sesuatu yang lucu sampai membuat lo tertawa terbahak-bahak, tapi ketika lo ingin mengabadikannya lewat Insta Story, sesuatu yang lucu itu gak terdengar lucu lagi.

Garing.

Palsu.

Gak apa adanya.

Sampai akhirnya di sinilah gue. Menulis tanpa berpikir dua kali. Menjadi spontan tanpa takut jadi kejam.

Ini yang gue lihat. Ini juga yang gue rasakan. Ini pula yang gue pikirkan.

It flows like crazy. Yet as crazy as it is, that’s me.

Ini tulisan dari seseorang yang masih dalam perjalanan panjang untuk menerima dirinya sendiri sebagai apa adanya dia. Belajar banyak dari pembaca yang nggak hanya memberinya dukungan, tapi juga pesan dan cerita. Berjalan bersama mereka yang menyaksikan siapa dia, untuk menjadi dia, tanpa ingin menjadi siapa.

ClairesNonversationLoversationVevia, atau cerita lain. Mereka cuma bagian kecil dari seberapa sederhananya gue berpikir. Sama sederhananya dengan apa yang akan kalian baca di sini. Mungkin ini cuma tentang hari Senin gue yang ketemu Tukang Gojek ramah, atau tentang gue yang gak sengaja melihat seorang bapak dengan jempolnya yang tanpa kuku, atau tentang pagi di musim panas yang tiba-tiba hujan dan gak ada matahari, atau tentang kegagalan yang gak pernah kunjung menemukan keberhasilan.

Atau malah, cuma tentang cerita yang kalian bagi pada gue di direct message yang gak pernah gue balas.

Cuma itu.

Dan sesederhana itu.

Jadi, selamat datang di sini.